PARA PEMIMPI
Para Pemimpi
begitulah aku menyebut amat, junai dan diriku sebagai seorang pemimpi kelas teri, yang sedang asik memikirkan
impian masa depan masing-masing, kau tau mengapa kawan, jawabannya hanya satu
yakni cita-cita. Sore itu awan hitam terlihat jelas menutupi langit biru,
tiupan angin begitu kencang hingga menerbangkan daun-daun yang berserakan di
tepi-tepi jalan citra niaga, burung-burung terlihat mulai merapatkan dirinya
disalah satu bangunan yang terbuat dari kayu ulin atau lebih tepatnya
dilangit-langit tempat markas satpam citra niaga.
Suara
gemuruh berkali-kali terdengar bagaikan derum raksasa yang sengaja digulingkan
dari lantai ke duapuluh tiga, hingga jelas terdengar begitu keras menerobos
masuk kedalam telinga. Dibalik awan hitam berkali-kali nampak jelas terlihat mengeluarkan
cahaya-cahaya kilat yang menakutkan dengan muatan jutaan ribu kilo wat energi
listrik yang siap menumbangkan benda apa saja yang menghalanginya. Aku takut
melihat semua ini, seakan langit akan runtuh, dunia akan hancur dihantam derum raksasa yang mengaung-ngaung
dari langit, cahaya kilat yang menyilaukan terasa bagaikan kita sedang difoto
malaikat dengan kamera yang besarnya
duapuluh tujuh kalilipat dari ukuran bumi hingga semua tak dapat bersembunyi
dari dekapan cahaya blitz yang keluar dari mata kamera raksasa.
Aku
mendekap erat tangan amat yang mulai menempel disalah satu tiang panggung,
kemudian kutatap wajah junai, yang berdiri tegak menantang lajur angin, tak terlihat rasa takut dari raut
wajahnya, seakan ia baru melewati masa kemarau panjang dan hari ini Tuhan akan
menurunkan hujan deras untuknya, semakin lama hembusan angin terasa semakin
kencang menampar-nampar wajahku, kulihat amat sudah berubah menjadi toke raksasa dan tetap menempel disalah satu tiang
panggun. Kali ini sepertinya Tuhan telah murka atas semua kejahatan yang
terjadi di citra niaga.
Perlahan
kurasakan air hujan yang mulai membasahi bumi menerobos masuk kedalam panggung
dan tepat mengenai kami bertiga, pori-poriku mulai terasa dingin tertusuk
serpihan air hujan yang terbawa angin, kugenggam erat baju amat, kurasakan
tetes demi tetes air keluar dari ujung bajunya, kulihat ia menggigil tak tahan
diterpa tempias air hujan yang menyatu dengan angin, namun lain halnya dengan junai,
Ia malah kesenangan bukan kepayang, tak sedikitpun merasa kedinginan, wajahnya
sumringah, ia berlari-lari ketengah lapangan, kulihat kancing bajunya dilepas
dengan sengaja, agar angin dapat memeluk tubuhnya yang kurus, kutatap wajah
amat yang mulai pucat, ujung-ujung jarinya mulai keriput, bibirnya bergetar
hebat hingga terdengar bunyi gemelatuk giginya yang mulai demonstrasi minta
diselimuti, sekarang aku seperti orang-orangan sawah yang akan tumbang dihantam
pukulan angin deras dari segala arah, kurasakan tubuhku mulai diserang rasa
dingin, aliran darahku sepertinya tak mampu lagi beredar keseluruh tubuhku, aku
benar-benar akan beku dan ambruk ditengah-tengah panggung, kutatap lagi junai,
namun ia sepertinya sedang merayakan kebahagiaannya, berlari tanpa tujuan
menerobos ketengah hantaman air hujan, gerak tubuhnya bagaikan orang kesambet
jin, atau lebih tepatnya kerasukan mahluk dari dunia lain.
Aku menciut, lemas tak kuasa menahan serbuan jutaan air hujan yang menikam seluruh
tubuhku, aku membungkukan badan seperti udang yang habis dikuliti. Namun lain
halnya dengan amat, ia hanya menggosok-gosokan kedua telapak tangannya agar tak
kaku. Namun junai semakin menjadi-jadi, kali ini ia terlihat bagaikan penduduk
pedalaman benua afrika yang sedang merayakan ritual kuno karena turun hujan.
Hampir dari satu jam junai bernostalgia dengan hujan akhirnya ia takluk juga
tak sanggup menahan dingin, kali ini ia menghentikan lari kencangnya kemudian
berlari menuju panggung, tubuhnya gemetar seperti orang yang lagi meriang, satu
persatu kacingnya mulai dikaitkan dan ia menempel disebelahku minta dipeluk,
aku tau bulan ini bulan november, artinya dibulan ini curah hujan cukup besar,
biasanya dibulan yang berakhiran ber memang waktunya untuk musim penghujan,
bila musim hujan seperti ini penghasilan kami berkurang, karna tak satupun
orang yang mau disemir sepatunya.
Hampir dari satu setengah jam
dihantam rasa dingin, akhirnya hujan mulai redah, awan hitam berubah menjadi cerah
kembali, sinar matahari mulai dapat kulihat menerobos masuk dicelah-celah awan
yang menutupinya, kami bertiga yang hampir beku seperti sebongkah es perlahan
mulai mencairkan rasa dingin yang melekat dalam tubuh kami. Kemudian aku,
junai, dan amat duduk bersampingan sambil memeras-meras pakaian kami yang basah
diguyur air hujan.
“Apa kalian punya cita-cita dalam diri kalian….?” Junai mencoba
untuk membuka pembicaraan.
“Cita-cita itu sepeti jiwa
yang hidup didalam diri kita, ia menjadi motor yang memompa semangat hidup
untuk berusaha…..?”
Kutatap wajah amat yang pucat karena kedinginan, lalu kulemparkan
senyum padanya, kunaikan alisku sambil memandang kedua matanya, tanda isyarat,
apa ia mendengar kata-kata junai barusan.
“orang yang nggak punya cita-cita itu, orang yang tak punya prinsip
untuk apa ia hidup!”
Amat masih terdiam tak memberi respon, ia masih sibuk membakar
tubuhnya ketengah cahaya matahari yang menerobos ke tepi-tepi panggung.
“Aku ingin menjadi dokter..?”
Kali ini aku serius menatap kearah junai, kemudian kutatap
dalam-dalam, dalam hatiku bertanya apa benar ia sungguh-sungguh dengan apa yang
barusan ia ucapkan.
“Aku ingin menolong orang-orang jalanan yang tak terurus oleh pemerintah, coba
kau lihat apa ada yang menanyakan tentang kesehatan para gelandangan yang tidur
berserakan diatas kardus berukuran 6x5
meter….?”
Aku terdiam mahfum, aku takjim mendengar cita-cita besarnya itu,
tubuh kurus tak terawat yang terlihat rangka tulang tubuhnya yang mulai
terlihat jelas dikiri-kanannya. Kali ini ia berbicara tentang orang lain.
“Coba kau tanya pada mereka, berapa kali sebulan petugas kesehatan
mengunjunginya, atau kau tanya sudah cukupkah nilai gizi disetiap makanan yang
dikonsumsinya, tak ada kawan, semua itu tak ada….?
Kali ini aku dibuat tercengang oleh kata-katanya yang manusiawi,
junai mulai berbicara tentang kesehatan, nilai gizi, apa ia tak sardar dengan
keadaanya yang sedang dilanda gizi buruk. Namun junai tetaplah junai, dari
kecil ia telah ditinggal mati ayahnya, dan tinggal dengan ibunya yang bekerja
sebagai penjual lidi bersama ketiga saudaranya, satu orang kakak laki-laki dan dua orang adiknya laki-laki dan
perempuan. Biasanya sepulang sekolah ia tak langsung bersantai-santai, bila
dilihatnya tong dalam rumahnya kosong ia akan mengambil jerigen dan menuju
sumur untuk mengisi derum-derum kosong dalam rumahnya.
“OLeh sebab itu kawan, jangan pernah kau mengubur mimpi-mimpimu
kedalam kekuranganmu, kau akan lihat nanti bila aku telah jadi dokter, pakaian
yang akan kukenakan bukan sembarang pakaian, semua rapi terawat, aku akan
ditemani dua orang asisten dalam runganku yang dicat serba putih, orang-orang
yang ingin menemuiku harus melalui asistenku yang berjaga-jaga didepan pintu
ruangan. Aku juga akan memberikan pengobatan geratis untuk orang-orang yang
tidak mampu, apa kalian dengar kata-kataku!”
Aku dan amat tersenyum padanya tanda kami kagum dengan cita-citanya,
dan kali ini giliran amat yang mulai angkat bicara, sepertinya ia juga tak mau
kalah dengan cit-cita junai.
“Jadi dokter, bagus sekali, namun aku tak tertarik untuk jai
dokter….?”
“lantas kau ingin jadi apa?” Aku dan junai serentak bertanya
padanya.
“Aku ingi menjadi sarjana komputer, karna aku lebih tertarik dengan
dunia elektronik ketimbang jadi dokter…?”
Jelas saja ia tak ingin jadi dokter, selain intelektualitasnya dalam
ilmu pengetahuan alam yang dibawah setandar, ia juga sebenarnya takut
berhadapan dengan jarum suntik, seperti tempo hari ia tak mau turun sekolah
karna hari itu disekolahnya sedang berlangsung kegiatan suntik cacar dan ia
lebih memilih dicubiti sampai merah pahanya oleh ibunya ketimbang lengannya
ditusuk dengan jarum suntik.
“kalian tau dijaman sekarang orang lebih tertarik dengan komputer,
bahkan disetiap kantor pemerintahan bertengger sebuah komputer yang menandakan
sipemilik ruangan bukan orang yang Gaptek melainkan orang-orang hebat kawan…?”
Junai terkesima mendengar
kata-kata amat, kulihat matanya tak berkeip, mulutnya tak dapat ditutup, ia
hanya menganga, kedua bibirnya membentuk seperti huruf O.
“sudahlah, kalian tak akan ngerti bila aku berbicara panjang lebar,
sampai berbusa pun mulutku kalian tak akan mengerti, yang jelas aku cuman
bercita-cita menjai sarjana komputer, ingat baik-baik, sarjana komputer!”
kemudian amat menghentikan kata-katanya dan menatap kearahku, tanda aku harus
mengungkapkan cita-citaku didepan mereka berdua.
Aku bingung ingin mengatakan apa cita-cita dalam diriku, selama ini
yang kupikirkan hanya sekolah, sepulang sekolah makan siang, habis itu
berangkat menjadi penyemir sepatu, tak ada yang lain yang menempel dalam
otakku, jadi dokter, atau sarjana komputer juga tak ada dalam agenda
hari-hariku, namun kedua mahluk jelek bau pesing didepanku, mendesak agar aku
katakan secepatnya.
“Ah, sial mengapa mereka bercita-cita sedini mungkin, lagi pula kami
masih duduk dibangku SD, jadi waktu masih panjang untuk membicarakannya….?”
Namun semakin lama aku bungkam semakin keras desakan mereka, aku tak apat
bicara, kurasakan didalam rongga mulutku seperti telah disumpal dengan sebuah
bola pimpong, hingga tak dapat aku mengucapkan sepatah kata pun. Kualihkan
pandangan mataku kedalam pos satpam agar
mereka tak menatapku, dan tak sengaja kulihat sebuah
foto berukuran lebih dari10R terpampang jelas menempel didinding, kemuddian ku lakukan
gerakan gasture kepada amat dan junai untuk melihat gambar yang menempel itu.
Sontak saja keduanya kaget, amat dan junai langsung melompat dari
tempat duduk masing-masing, tak percaya melihat gambar foto yang kutunjukan,
kulihat junai tak dapat mengedipkan bola matanya, kakinya kaku tak dapat
digerakan, kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga, kancing bajunya
seakan mau copot semua, ia seakan sedang berhadapan dengan orang yang ia kenal
namun tak pernah sekalipun berjabat tangan dengannya, foto itu terlihat angkuh
namun berwibawah. Kemudian kutatap kearah amat, tak sepatah katapun yang keluar
dari mulutnya, hanya gerakan kepala yang menggeleng yang mengatakan, bukan main
cita-citamu. Aku tak perlu lagi
menjelaskan panjang lebar kepada mereka berua, tulisan besar yang terpampang
dibawah foto itu sudah cukup mewakilkan penjelasanku, cukup membacanya saja,
“H.M.Ardan SH. Gubernur Kalimantan Timur.”