Rabu, 29 November 2017

PARA PEMIMPI
 Para Pemimpi begitulah aku menyebut amat, junai dan diriku sebagai seorang pemimpi  kelas teri, yang sedang asik memikirkan impian masa depan masing-masing, kau tau mengapa kawan, jawabannya hanya satu yakni cita-cita. Sore itu awan hitam terlihat jelas menutupi langit biru, tiupan angin begitu kencang hingga menerbangkan daun-daun yang berserakan di tepi-tepi jalan citra niaga, burung-burung terlihat mulai merapatkan dirinya disalah satu bangunan yang terbuat dari kayu ulin atau lebih tepatnya dilangit-langit tempat markas satpam citra niaga.
                     Suara gemuruh berkali-kali terdengar bagaikan derum raksasa yang sengaja digulingkan dari lantai ke duapuluh tiga, hingga jelas terdengar begitu keras menerobos masuk kedalam telinga. Dibalik awan hitam berkali-kali nampak jelas terlihat mengeluarkan cahaya-cahaya kilat yang menakutkan dengan muatan jutaan ribu kilo wat energi listrik yang siap menumbangkan benda apa saja yang menghalanginya. Aku takut melihat semua ini, seakan langit akan runtuh, dunia akan hancur  dihantam derum raksasa yang mengaung-ngaung dari langit, cahaya kilat yang menyilaukan terasa bagaikan kita sedang difoto malaikat dengan kamera  yang besarnya duapuluh tujuh kalilipat dari ukuran bumi hingga semua tak dapat bersembunyi dari dekapan cahaya blitz yang keluar dari mata kamera raksasa.
                     Aku mendekap erat tangan amat yang mulai menempel disalah satu tiang panggung, kemudian kutatap wajah junai, yang berdiri tegak menantang lajur  angin, tak terlihat rasa takut dari raut wajahnya, seakan ia baru melewati masa kemarau panjang dan hari ini Tuhan akan menurunkan hujan deras untuknya, semakin lama hembusan angin terasa semakin kencang menampar-nampar wajahku, kulihat amat sudah berubah menjadi toke raksasa  dan tetap menempel disalah satu tiang panggun. Kali ini sepertinya Tuhan telah murka atas semua kejahatan yang terjadi di citra niaga.
                    Perlahan kurasakan air hujan yang mulai membasahi bumi menerobos masuk kedalam panggung dan tepat mengenai kami bertiga, pori-poriku mulai terasa dingin tertusuk serpihan air hujan yang terbawa angin, kugenggam erat baju amat, kurasakan tetes demi tetes air keluar dari ujung bajunya, kulihat ia menggigil tak tahan diterpa tempias air hujan yang menyatu dengan angin, namun lain halnya dengan junai, Ia malah kesenangan bukan kepayang, tak sedikitpun merasa kedinginan, wajahnya sumringah, ia berlari-lari ketengah lapangan, kulihat kancing bajunya dilepas dengan sengaja, agar angin dapat memeluk tubuhnya yang kurus, kutatap wajah amat yang mulai pucat, ujung-ujung jarinya mulai keriput, bibirnya bergetar hebat hingga terdengar bunyi gemelatuk giginya yang mulai demonstrasi minta diselimuti, sekarang aku seperti orang-orangan sawah yang akan tumbang dihantam pukulan angin deras dari segala arah, kurasakan tubuhku mulai diserang rasa dingin, aliran darahku sepertinya tak mampu lagi beredar keseluruh tubuhku, aku benar-benar akan beku dan ambruk ditengah-tengah panggung, kutatap lagi junai, namun ia sepertinya sedang merayakan kebahagiaannya, berlari tanpa tujuan menerobos ketengah hantaman air hujan, gerak tubuhnya bagaikan orang kesambet jin, atau lebih tepatnya kerasukan mahluk dari dunia lain.
Aku menciut, lemas tak kuasa menahan serbuan  jutaan air hujan yang menikam seluruh tubuhku, aku membungkukan badan seperti udang yang habis dikuliti. Namun lain halnya dengan amat, ia hanya menggosok-gosokan kedua telapak tangannya agar tak kaku. Namun junai semakin menjadi-jadi, kali ini ia terlihat bagaikan penduduk pedalaman benua afrika yang sedang merayakan ritual kuno karena turun hujan. Hampir dari satu jam junai bernostalgia dengan hujan akhirnya ia takluk juga tak sanggup menahan dingin, kali ini ia menghentikan lari kencangnya kemudian berlari menuju panggung, tubuhnya gemetar seperti orang yang lagi meriang, satu persatu kacingnya mulai dikaitkan dan ia menempel disebelahku minta dipeluk, aku tau bulan ini bulan november, artinya dibulan ini curah hujan cukup besar, biasanya dibulan yang berakhiran ber memang waktunya untuk musim penghujan, bila musim hujan seperti ini penghasilan kami berkurang, karna tak satupun orang yang mau disemir sepatunya.
Hampir  dari satu setengah jam dihantam rasa dingin, akhirnya hujan mulai redah, awan hitam berubah menjadi cerah kembali, sinar matahari mulai dapat kulihat menerobos masuk dicelah-celah awan yang menutupinya, kami bertiga yang hampir beku seperti sebongkah es perlahan mulai mencairkan rasa dingin yang melekat dalam tubuh kami. Kemudian aku, junai, dan amat duduk bersampingan sambil memeras-meras pakaian kami yang basah diguyur air hujan.
“Apa kalian punya cita-cita dalam diri kalian….?” Junai mencoba untuk membuka pembicaraan.
“Cita-cita itu sepeti  jiwa yang hidup didalam diri kita, ia menjadi motor yang memompa semangat hidup untuk berusaha…..?”
Kutatap wajah amat yang pucat karena kedinginan, lalu kulemparkan senyum padanya, kunaikan alisku sambil memandang kedua matanya, tanda isyarat, apa ia mendengar kata-kata junai barusan.
“orang yang nggak punya cita-cita itu, orang yang tak punya prinsip untuk apa ia hidup!”
Amat masih terdiam tak memberi respon, ia masih sibuk membakar tubuhnya ketengah cahaya matahari yang menerobos ke tepi-tepi panggung.
“Aku ingin menjadi dokter..?”
Kali ini aku serius menatap kearah junai, kemudian kutatap dalam-dalam, dalam hatiku bertanya apa benar ia sungguh-sungguh dengan apa yang barusan ia ucapkan.
“Aku ingin menolong orang-orang  jalanan yang tak terurus oleh pemerintah, coba kau lihat apa ada yang menanyakan tentang kesehatan para gelandangan yang tidur berserakan diatas kardus berukuran  6x5 meter….?”
Aku terdiam mahfum, aku takjim mendengar cita-cita besarnya itu, tubuh kurus tak terawat yang terlihat rangka tulang tubuhnya yang mulai terlihat jelas dikiri-kanannya. Kali ini ia berbicara tentang orang lain.
“Coba kau tanya pada mereka, berapa kali sebulan petugas kesehatan mengunjunginya, atau kau tanya sudah cukupkah nilai gizi disetiap makanan yang dikonsumsinya, tak ada kawan, semua itu tak ada….?
Kali ini aku dibuat tercengang oleh kata-katanya yang manusiawi, junai mulai berbicara tentang kesehatan, nilai gizi, apa ia tak sardar dengan keadaanya yang sedang dilanda gizi buruk. Namun junai tetaplah junai, dari kecil ia telah ditinggal mati ayahnya, dan tinggal dengan ibunya yang bekerja sebagai penjual lidi bersama ketiga saudaranya, satu orang kakak  laki-laki dan dua orang adiknya laki-laki dan perempuan. Biasanya sepulang sekolah ia tak langsung bersantai-santai, bila dilihatnya tong dalam rumahnya kosong ia akan mengambil jerigen dan menuju sumur untuk mengisi derum-derum kosong dalam rumahnya.
“OLeh sebab itu kawan, jangan pernah kau mengubur mimpi-mimpimu kedalam kekuranganmu, kau akan lihat nanti bila aku telah jadi dokter, pakaian yang akan kukenakan bukan sembarang pakaian, semua rapi terawat, aku akan ditemani dua orang asisten dalam runganku yang dicat serba putih, orang-orang yang ingin menemuiku harus melalui asistenku yang berjaga-jaga didepan pintu ruangan. Aku juga akan memberikan pengobatan geratis untuk orang-orang yang tidak mampu, apa kalian dengar kata-kataku!”
Aku dan amat tersenyum padanya tanda kami kagum dengan cita-citanya, dan kali ini giliran amat yang mulai angkat bicara, sepertinya ia juga tak mau kalah dengan cit-cita junai.
“Jadi dokter, bagus sekali, namun aku tak tertarik untuk jai dokter….?”
“lantas kau ingin jadi apa?” Aku dan junai serentak bertanya padanya.
“Aku ingi menjadi sarjana komputer, karna aku lebih tertarik dengan dunia elektronik ketimbang jadi dokter…?”
Jelas saja ia tak ingin jadi dokter, selain intelektualitasnya dalam ilmu pengetahuan alam yang dibawah setandar, ia juga sebenarnya takut berhadapan dengan jarum suntik, seperti tempo hari ia tak mau turun sekolah karna hari itu disekolahnya sedang berlangsung kegiatan suntik cacar dan ia lebih memilih dicubiti sampai merah pahanya oleh ibunya ketimbang lengannya ditusuk  dengan jarum suntik.
“kalian tau dijaman sekarang orang lebih tertarik dengan komputer, bahkan disetiap kantor pemerintahan bertengger sebuah komputer yang menandakan sipemilik ruangan bukan orang yang Gaptek melainkan orang-orang hebat kawan…?”
Junai  terkesima mendengar kata-kata amat, kulihat matanya tak berkeip, mulutnya tak dapat ditutup, ia hanya menganga, kedua bibirnya membentuk seperti huruf O.
“sudahlah, kalian tak akan ngerti bila aku berbicara panjang lebar, sampai berbusa pun mulutku kalian tak akan mengerti, yang jelas aku cuman bercita-cita menjai sarjana komputer, ingat baik-baik, sarjana komputer!” kemudian amat menghentikan kata-katanya dan menatap kearahku, tanda aku harus mengungkapkan cita-citaku didepan mereka berdua.
Aku bingung ingin mengatakan apa cita-cita dalam diriku, selama ini yang kupikirkan hanya sekolah, sepulang sekolah makan siang, habis itu berangkat menjadi penyemir sepatu, tak ada yang lain yang menempel dalam otakku, jadi dokter, atau sarjana komputer juga tak ada dalam agenda hari-hariku, namun kedua mahluk jelek bau pesing didepanku, mendesak agar aku katakan secepatnya.
“Ah, sial mengapa mereka bercita-cita sedini mungkin, lagi pula kami masih duduk dibangku SD, jadi waktu masih panjang untuk membicarakannya….?” Namun semakin lama aku bungkam semakin keras desakan mereka, aku tak apat bicara, kurasakan didalam rongga mulutku seperti telah disumpal dengan sebuah bola pimpong, hingga tak dapat aku mengucapkan sepatah kata pun. Kualihkan pandangan mataku kedalam pos satpam agar mereka tak menatapku, dan tak sengaja kulihat sebuah foto berukuran  lebih dari10R terpampang jelas menempel didinding, kemuddian ku lakukan gerakan gasture kepada amat dan junai untuk melihat gambar  yang menempel itu.

Sontak saja keduanya kaget, amat dan junai langsung melompat dari tempat duduk masing-masing, tak percaya melihat gambar foto yang kutunjukan, kulihat junai tak dapat mengedipkan bola matanya, kakinya kaku tak dapat digerakan, kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga, kancing bajunya seakan mau copot semua, ia seakan sedang berhadapan dengan orang yang ia kenal namun tak pernah sekalipun berjabat tangan dengannya, foto itu terlihat angkuh namun berwibawah. Kemudian kutatap kearah amat, tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, hanya gerakan kepala yang menggeleng yang mengatakan, bukan main cita-citamu.  Aku tak perlu lagi menjelaskan panjang lebar kepada mereka berua, tulisan besar yang terpampang dibawah foto itu sudah cukup mewakilkan penjelasanku, cukup membacanya saja, “H.M.Ardan SH. Gubernur Kalimantan Timur.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar